Tuesday, September 1, 2015

Cara Tepat Menanam Sawi Dan Caisim

Salam Tani !!! Kali ini di blog Gerbang Pertanian akan membahas tentang bagaimana cara menanam sawi atau caisim yang tepat, namun demikian teknis budidaya tersebut tidaklah baku untuk dilakukan tetapi masih perlu dimodifikasi lagi agar sesuai dengan kondisi lokasi setempat.

Kenapa tanaman sawi atau caisim ini menjadi pilihan alternatif untuk kita budidayakan ? Karena tanaman sawi atau caisim sangat mudah kita budidayakan dibanding tanaman sayuran yang lain. Selain itu sawi atau caisim berumur sangat pendek, hanya dalam waktu sekitar satu bulan kita sudah bisa menikmati hasilnya.

Tanaman sayur merupakan salah satu tanaman andalan Negara Indonesia. Banyak sekali petani Indonesia yang membudidayakan berbagai jenis tanaman sayuran.

Hal tersebut disebabkan karena iklim di Indonesia memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak jenisnya, baik sayur dataran rendah hingga sayur dataran tinggi. Sehingga jika ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran.

Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim atau sawi karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik.

Berbagai menu makanan mewajibkan menggunakan sawi/ caisin ini seperti mie ayam, bakso, pecel, gado-gado dll. Setiap daerah menyebut sawi atau caisim berbeda-beda seperti chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi orang banyumas caisim dll.

Selain sebagai sumber serat alami dan sayuran sehat sawi juga masih memiliki banyak manfaat. Manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan. Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.

KLASIFIKASI BOTANI SAWI ATAU CAISIM
Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi : Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales (Brassicales).
Famili : Cruciferae (Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica Juncea.

JENIS-JENIS SAWI ATAU CAISIM

Ada beberapa jenis tanaman sawi atau caisim yang perlu kita ketahui. Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma.

Sekarang ini masyarakat lebih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi monumen. Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis sawi yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini. Tangkai daunnya panjang, langsing, berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya yang renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain enak ditumis atau dioseng, juga untuk pedangan mie bakso, mie ayam, atau restoran cina.

SYARAT TUMBUH SAWI DAN CAISIM

Meskipun tidak memerlukan syarat tumbuh tertentu akan tetapi ada batasan supaya tanaman sawi ini bisa tumbuh maksimal. Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia . Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.

Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan.

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik.

Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

BUDIDAYA TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Dari pengalaman maspary untuk membudidayakan tanaman sawi atau caisim sebenarnya tidaklah sesulit tanaman sayur yang lain seperti cabai, tomat, terong dll. Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman.

Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang dau, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu.

Berikut ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan.

PEMBENIHAN SAWI DAN CAISIM

Benih tanaman sawi atau caisim bisa kita buat sendiri ataupun kita beli dari kios pertanian. Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus.

Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.

Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman.

Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya.

Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil.

Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

CARA PENGOLAHAN TANAH UNTUK TANAM SAWI DAN CAISIM

Pada dasarnya tanaman sawi tidak menyukai genangan air, oleh karena itu kita harus memodifikasi supaya tanah tidak tergenang saat hujan. Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan. Akan tetapi jika lokasi tanah kita tinggi tidak menggunakan bedengan juga tidak masalah.

Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.

Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm.

Pemberian pupuk kandang fermentasi 3 - 5 ton/ha. Pupuk kandang fermentasi diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan.

Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

PEMBIBITAN TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Tanaman sawi atau caisim tidak bisa kita tanam langsung dari benih karena akan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Akan tetapi harus kita buat pembibitan terlebih dahulu. Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman.

Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya.

Sedang ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter.

Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.

Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.

Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer.

Setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

PENANAMAN SAWI DAN CAISIM

Hal terpenting pada penanaman sawi adalah kedalaman penanaman sawi atau caisim. Tidak boleh terlalu dalam atau terlalu dangkal.

Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah.

Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 3 – 5 ton/ha, TSP 40 kg/ha, Kcl 15 kg/ha.

Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.

Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm.

PEMELIHARAAN TANAMAN CAISIM DAN SAWI

Ada beberapa pemeliharaan tanaman sawi atau caisim yang perlu kita lakukan. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.

Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.

Penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.

Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.

Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 20 kg/ha 1 minggu sekali sampai masa panen.

PENANAMAN VERTIKULTUR TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Tanaman sawi dan caisim sangat cocok jika kita budidayakan scara vertikultur karena memiliki perakaran yang pendek. Langkah – angkah penanaman secara vertikul untuk tanaman sawi atau caisim adalah sebagai berikut :

Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan.

Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata.

Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm.

Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 – 5 helai.

Polibag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.

PENANAMAN HIDROPONIK TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Selain dibudidayakan secara veltikulture tanaman sawi juga sudah biasa dibudidayakan secara hidroponik. (untuk mengetahui cara membuat larutan hidroponik secara organik silahkan lihat artikel maspary yang terdahulu). Langkah-langkah penanaman secara hidroponik untuk tanaman sawi atau caisim adalah sebagai berikut :

Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal 3 – 4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir setebal 0,5 cm.

Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 – 5 helai (umur 3 – 4 minggu0, bibit dicabut dengan hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu panjang dapat digunting.

Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 – 10 cm, selanjutnya di sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm.

Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang tersebut, tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit tegak lurus dengan media.

Berikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga tumbuh besar.

HAMA TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Dari pengalaman maspary ada beberapa hama tanaman caisim yang perlu diperhatikan, akan tetapi hama-hama tersebut mudah dikendalikan. Beberapa hama yang perlu diwaspadai pada budidaya sawi atau caisim antara lain Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.). Ulat tritip (Plutella maculipennis).Siput (Agriolimas sp.).Ulat Thepa javanica.Cacing bulu (cut worm).

Hama-hama diatas bisa dikendalikan dengan berbagai insektisida golongan sipermetrin seperti buldok, matador atau decis. Atau menggunakan insektisida biologi atau nabati yang ada disekitar anda.

PENYAKIT TANAMAN SAWI DAN CAISIM

Selain rawan terserang hama tanaman sawi juga mudah terserang penyakit pada saat musim hujan. Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman sawi atau caisim adalah Penyakit akar pekuk.Bercak daun alternaria. Busuk basah (soft root). Penyakit embun tepung (downy mildew). Penyakit rebah semai (dumping off). Busuk daun.busuk Rhizoctonia (bottom root). Bercak daun.Virus mosaik.

Untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman sawi menurut pengalaman maspary cukup dengan menjaga kondisi kelembaban dan genangan air saja. Jika cuaca curah hujan tinggi sebaiknya tanaman sawi kita naungi dengan plastik sedangkan jika kondisi lahan mudah tergenang sebaiknya kita buat guludan yang agak tinggi.

PANEN DAN PASCA PANEN CAISIM DAN SAWI

Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya.
Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari.
Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun.
Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.

Pasca panen sawi dan caisim yang perlu diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penyimpanan.
5. Pengolahan.

Menurut maspary, tehnik budidaya caisim atau sawi yang ditulis diatas sifatnya tidaklah mutlak artinya tehnik budidaya diatas sangat memungkinkan untuk dimodifikasi disesuaiakan dengan kondisi alam dan iklim setempat serta ketersediaan biaya dan tenaga kerja kita.

Demikian cara teknis budidaya tanaman sawi atau caisim dari Gerbang Pertanian untuk petani Indonesia semoga bisa bermanfaat bagi pembaca semua.

Sumber :
http://www.gerbangpertanian.com/2014/09/cara-tepat-menanam-sawi-dan-caisim.html


Baca artikel selengkapnya....

Friday, August 14, 2015

Mandarinfish, Karakteristik dan Cara Pemijahan

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Order : Perciformes
Subordo : Callionymoidei
Keluarga : Callionymidae
Genus : Synchiropus
Spesies : synchiropus splendidus

Asal Mula Mandarinfish:
Ikan ini berasal dari samudra fasifik, tepatnya dari Kepulauan Ryukyu hingga Australia. Mandarinfish adalah keluarga perciform Callionymidae, terdiri dari 10 marga dan lebih dari 182 spesies. Genus Synchiropus terhitung 51 spesies, dibagi menjadi 10 subgenera. Mandarinfish berada dalam subgenus Synchiropus (Pterosynchiropus) bersama dengan Australia LSD-ikan (S. occidentalis) dan ikan-LSD atau psychedelic (S. picturatus). Habitat dan penyebaran Mandarinfish ini sebagian besar di Negara Malaysia, Indonesia, Filipina dan Australia.. ikan ini biasanya ditemukan sebagai penghuni patahan karang yang rusak dan di bawah karang yang sudah mati.

Karakteristik Mandarinfish:
Mandarinfish (Synchiropus splendidus) adalah ikan hias air laut yang berukuran kecil dan memiliki warna yang cerah. Mandarinfish ini memiliki latar belakang biru dengan garis oranye yang bergelombang, dan didominasi oleh warna biru, kuning, oranye, ungu dan hijau. Ikan ini memiliki bentuk yang aneh dimana ikan ini memiliki mulut yang kecil dan mengarah kebawah. Bagian kepalanya besar dan tertekan kebawah. Dibagian samping ikan ini memiliki duri – duri yang bergerigi dan ikan ini tidak mempunyai sisik namun kulitnya dilapisi oleh banyak lendir sehingga ikan ini terlihat lebih indah. Mandarinfish juga merupakan salah satu ikan hias air laut yang kebal oleh serangan penyakit.

Makanan Mandarinfish:
Makanan yang disukai ikan ini adalah larva udang, larva ikan, artemia, capepoda, cacing merah, jentik nyamuk, larva kekerangan.

Pemijahan (Budidaya) :
Perbedaan induk jantan dan betina dapat dibedakan sebagai berikut :

Induk Jantan :
Ukuran relatif lebih besar dari induk betina meskipun seusia
Dilihat dari atas perut pipih ramping
Bentuk kepala agak besar
Antara mulut dan sirip punggung berbentuk cembung.

Induk Betina :
Mempunyai ukuran relatif lebih kecil dari induk jantan
Perut terlihat besar dan menonjol
Kepala lebih kecil
Antara mulut ke sirip punggung membentuk garis lurus, kadang-dang menonjol sedikit.

Pemilihan Induk :
Induk yang baik untuk dipijahkan adalah yang telah berumur lebih dari 6 bulan, dengan panjang induk jantan + 7,5 cm dan induk betina +5 cm
Untuk penentuan pasangan secara cermat, yaitu dengan cara menyiapkan induk-induk yang telah matang telur dalam satu bak (2 x 2) meter persegi dengan ketinggian air + 30 cm. Umumnya ikan manfish akan memilih pasangannya masing-masing. Hal ini dapat terlihat pada malam hari, ikan yang telah berpasangan akan memisahkan diri dari kelompoknya. Ikan yang telah berpasangan ini segera diangkat untuk dipijahkan.

Cara Pemijahan :
Tempat pemijahan dapat berupa aquarium, bak atau paso dari tanah, diisi air yang telah diendapkan setinggi 30 - 60 cm
Siapkan substrat dapat berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik atau genteng dengan lebar + 10 cm dan panjang +20 cm
Substrat diletakkan secara miring atau terlentang
Sebelum terjadi pemijahan, induk jantan akan membersihkan substrat dengan mulutnya
Setelah terjadi pemijahan, telur akan menempel pada substrat. Untuk satu kali pemijahan telur dapat berjumlah 2.000 ~ 3.000 butir
Selama pemijahan induk akan diberi makan kutu air dan cuk.

Sumber :
Dinas Perikanan, DKI Jakarta, Jakarta.


Baca artikel selengkapnya....

Monday, August 10, 2015

Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Hias Daun Puring

Panduan Lengkap Budidaya Tanaman Hias Daun Puring – Tanaman daun puring merupakan salah satu jenis tanaman hias yang digemeri karena selain tampilannya cantik, tanaman ini juga mudah untuk dirawat dan dibudidayakan. Selain itu harganya yang jauh lebih murah dibanding tanaman hias lain, membuat semua orang bisa menanamnya.

Tanaman dengan nama Latin Codiaeum variegatum ini memiliki warna daun yang indah. Dengan warna merah bercampur kuning dan hijau membuatnya nampak eksotis. Usaha budidaya daun puring juga terbilang cukup menjanjikan karena tanaman ini sangat mudah dijual atau sangat laku di pasaran.

Selain itu prosesnya yang tidak rumit dan tidak memerlukan biaya yang banyak membuat daya tarik sendiri bagi para pembudidaya. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan saat ingin melakukan budidaya tanaman daun puring.

1. Media Tanam

Sama seperti jenis tanaman yang lain, daun puring juga memerlukan media tanam untuk bisa hidup. Media tanam daun puring bisa berupa campuran dari pasir, humus, sekam, dan pupuk kandang. Media tanam tersebut bisa dimasukkan ke dalam pot untuk menanam daun puring sehingga terlihat lebih cantik.

Daun puring juga memerlukan asupan air yang cukup setelah ditanam. Jadi usahakan untuk melakukan penyiraman ke tanaman secara cukup dan rutin. Penyiraman bisa dilakukan selama 3 kali dalam sehari untuk menjaga tanah agar tetap lembab. Namun pada saat musim penghujan bisa dikurangi intensitas penyiraman.

2. Budidaya

Untuk membudidayakan atau memperbanyak tanaman daun puring bisa dilakukan dengan dua cara, yakni cara vegetatif dan generatif. Memperbanyak tumbuhan daun puring bisa dengan menggunakan bijinya. Namun cara tersebut terbilang tidak terlalu efektif karena membutuhkan waktu cukup lama, dan hasil yang didapatkan tidak selalu sama dengan induknya.

Sedangkan cara kedua bisa dilakukan dengan stek. Cara ini adalah cara yang banyak dilakukan oleh para pembudidaya karena selain cepat juga bisa menduplikasi jenis dari induk yang distek. Untuk melakukan budidaya tanaman puring dengan stek tergologi cukup mudah. Pertama-tama harus menyiapkan peralatan yang terdiri dari gunting, pisau, tali plasti, dan penutup plastik.

Caranya adalah pilih batang yang hendak distek. Pilih batang yang sudah berusia lumayan tua. Potong dengan pisau tajam dan rendam pada cairan untuk penumbuh selama 15 menit. Olesi bekas potongan pada indukan dengan fungisida untuk menghindari infeksi.

Selanjutnya letakkan potongan tadi pada media tanam dan tutup dengan plastik untuk mengurangi penguapan. Letakkan tanaman yang sudah siap di tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari secara langsung.

3. Mempercantik

Untuk mempercantik tanaman daun puring sehingga terlihat lebih cerah dan mencolok adalah dengan memperhatikan media tanam yang digunakan sampai dengan intensitas sinar matahari. Untuk mendapatkan warna daun puring yang sempurna bisa tempatkan tanaman di tempat yang memiliki suhu 28 sampai 30 derajat celcius.

Sumber :
http://jokowarino.id/panduan-lengkap-budidaya-tanaman-hias-daun-puring/


Baca artikel selengkapnya....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Para Sahabat

Total Visitors

Histats

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP