Thursday, May 1, 2014

Budidaya Ikan Manfish

Manfish atau yang dikenal juga dengan istilah 'Angel fish' berasal dari perairan Amazon, Amerika Selatan. Manfish (Pterophyllum scalare) tergolong ke dalam famili Cichlidae.
Beberapa jenis ikan Manfish yang dikenal dan telah berkembang di Indonesia antara lain adalah: Diamond (Berlian), Imperial, Marble dan Black-White.

Diamond (Berlian) berwarna perak mengkilat sampai hijau keabuan. Pada bagian kepala atas terdapat warna kuning hingga coklat kehitaman yang menyusur sampai bagian punggung. Manfish Imperial mempunyai warna dasar perak, tetapi tubuhnya dihiasi empat buah garis vertikal berwarna hitam/coklat kehitaman. Manfish Marble memiliki warna campuran hitam dan putih yang membentuk garis vertikal. Sedangkan manfish Black-White mempunyai warna hitam menghiasi separuh tubuhnya bagian belakang, dan warna putih menghiasi separuh bagian depan termasuk bagian kepala.

Ikan Manfish mempunyai ciri-ciri morfologis dan kebiasaan sebagai berikut:
* Memiliki warna dan jenis yang bervariasi
* Bentuk tubuh pipih, dengan tubuh seperti anak panah
* Sirip perut dan sirip punggungnya membentang lebar ke arah ekor, sehingga tampak sebagai busur yang berwarna gelap transparan
* Pada bagian dadanya terdapat dua buah sirip yang panjangnya menjuntai sampai ke bagian ekor.
* Menjaga dan melindungi keturunannya.
* Bersifat omnivorus
* Tergolong mudah menerima berbagai jenis makanan dalam berbagai bentuk dan sumber

Pengelolaan Induk
Ikan manfish dapat dijadikan induk setelah umurnya mencapai 7 bulan dengan ukuran panjang ± 7,5 cm. Untuk mencapai hasil yang optimal, induk harus dikelola dengan baik antara lain dengan pemberian pakan yang baik seperti jentik nyamuk, cacing Tubifex, atau Chironomous. Selain itu karena induk ikan manfish sangat peka terhadap serangan penyakit, maka perlu diberikan perlakukan obat secara periodik Obat yang biasa digunakan antara lain Oxytetracycline dan garam.

Sebelum dipijahkan, induk manfish dipelihara secara massal ( jantan dan betina ) terlebih dahulu dalam 1 akuarium besar (ukuran 100x60x60 cm3). Setelah matang telur, induk manfish akan berpasangan dan memisahkan dari ikan lainnya. Induk yang berpasangan tersebut sudah dapat diambil dan dipijahkan pada tempat pemijahan.

Selain itu dapat dilakukan, yaitu dengan memasangkan induk manfish secara langsung setelah mengetahui induk jantan dan betina. Induk jantan dicirikan dengan ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Kepala induk jantan terlihat agak besar dengan bagian antara mulut ke sirip punggung berbentuk cembung, serta bentuk badan lebih ramping dibandingkan dengan ikan betina. Sementara induk betina dicirikan oleh ukuran tubuh yang lebih kecil dan bentuk kepalanya yang lebih kecil dengan bagian perut yang lebih besar/gemuk serta terlihat agak menonjol.

Teknik Pemijahan
Pemijahan dilakukan di akuarium berukuran 60x50x40 cm3 dengan tinggi air ± 30 cm. Ke dalam akuarium tersebut diberikan aerasi untuk menyuplai oksigen.

Ikan manfish akan menempelkan telurnya pada substrat yang halus, misalnya potongan pipa PVC yang telah disiapkan/ditempatkan dalam akuarium pemijahan. Karena ikan manfish cenderung menyukai suasana yang gelap dan tenang, maka pada dinding akuarium dapat ditempelkan kertas atau plastik yang berwarna gelap.

Induk manfish akan memijah pada malam hari. Induk betina menempelkan telurnya pada substrat dan diikuti ikan jantan yang menyemprotkan spermanya pada semua telur, sehingga telur-telur tersebut terbuahi. Jumlah telur yang dihasilkan setiap induk berkisar antara 500-1000 butir. Selama masa pemijahan tersebut, induk tetap diberi pakan berupa cacing Tubifex, Chironomous atau Daphnia.

Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva Telur yang menempel pada substrat selanjutnya dipindahkan ke akuarium penmetasan telur (berukuran 60x50x40 cm3) untuk ditetaskan. Pada air media penetasan sebaiknya ditambahkan obat anti jamur, antara lain Methyline Blue dengan dosis 1 ppm. Untuk menjaga kestabilan suhu, maka ke dalam media penetasan telur tersebut digunakan pemanas air (water heater) yang dipasang pada suhu 27-28oC.
Telur manfish akan menetas setelah 2-3 hari, dengan derajat penetasan telur berkisar 70-90%. Selanjutnya paralon tempat penempelan telur diangkat dan dilakukan perawatan larva hingga berumur ± 2 minggu.
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva tersebut berupa pakan alami yang sesuai dengan bukaan mulut larva dan memiliki kandungan protein yang tinggi, antara lain nauplii Artemia sp. Pakan tersebut diberikan 2 kali sehari ( pagi dan sore ) hingga larva berumur ± 10 hari dan dilanjutkan dengan pemberian cacing Tubifex.

Pendederan dan Pembesaran
Setelah berumur ± 2 minggu, benih tersebut dapat dilakukan penjarangan untuk kemudian dilakukan pendederan sampai ikan berumur satu bulan.
Langkah berikutnya adalah memanen benih tersebut untuk dipindahkan ke dalam bak/wadah pembesaran. Dalam hal ini dapat digunakan bak fiber atau bak semen, tergantung wadah yang tersedia. Selama masa pembesaran, diupayakan agar ada aliran air ke dalam wadah pembesaran walaupun sedikit. Padat penebaran untuk pembesaran ikan manfish berkisar 100 ekor/m2. Pakan yang diberikan berupa cacing Tubifex atau pellet sampai benih berumur ± 2 bulan. Ukuran yang dicapai biasanya berkisar 3 - 5 cm. Jika pakan dan kualitas air mendukung, sintasan pada masa pembesaran dapat mencapai 70-90%. Selanjutnya benih manfish dapat dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran calon induk atau induk dengan padat penebaran yang lebih kecil.

Penyakit dan Penanggulangannya
Ikan manfish dikenal cukup peka terhadap serangan penyakit, untuk itu diperlukan pengelolaan secara baik dengan menjaga kualitas air dan jumlah pakan yang diberikan. Beberapa jenis parasit yang biasa menyerang benih/induk Manfish antara lain adalah :Trichodina sp., Chillodonella sp. dan Epystilys sp. Sedangkan bakteri yang menginfeksi adalah Aeromonas hydrophilla.
Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk menanggulangi serangan penyakit parasitek antara lain : Formalin 25%, NaCl 500 ppm. Sedangkan untuk penyakit bakterial dapat digunakan Oxytetrachycline 5 - 10 ppm dengan cara perendaman 24 jam.

Sumber :
http://budidayaikanhiasairtawar.blogspot.com/2011/12/budidaya-ikan-manfish.html


Baca artikel selengkapnya....

Saturday, March 29, 2014

Bonsai Bukan Sekedar Miniatur Pohon

Harus Punya Ciri Khusus

Membentuk bonsai memang memerlukan satu ketelitian dan juga kreativitas seni yang cukup tinggi. Disitu kesulitannya tentu menjaga agar tanaman tetap tumbuh di lingkungan yang kecil dan menjadikan satu bentuk seni pohon yang harus berkesan besar. Namun eksplorasi bentuk bonsai harus lebih dari sekedar miniatur pohon dan harus berani menciptakan gaya yang unik dan fenomenal. Bonsai memang tidak bisa dipisahkan dengan nilai seni dan itu yang membuat tanaman kerdil ini punya kelas tersendiri dan juga penggemar fanatik. Dari pengembangan bonsai ada dua bagian yang terpisah yaitu pertama adalah keanekaragaman jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman bonsai. Syaratnya tentu tanaman keras yang banyak tersebar di Indonesia.

Sementar pengembangan kedua adalah dari konsep seni yang dituangkan dalam karya seni bonsai. Disitu akan mencakup bentuk tanaman secara keseluruhan dilihat dari gaya gerakan dan konsep yang diambil. Dari hasil jadi bisa terlihat tingkatan kreatifitas dari pemilik termasuk juga gaya bonsai dan keberanian dalam melakukan eksplorasi gerakan baru.

Keberanian seorang pebonsai untuk menciptakan satu gaya dan bentuk yang unik secara langsung akan meningkatkan kreatifitas. Sebab dengan gaya baru akan muncul satu bentuk baru yang tidak sama atau merupakan pengembangan dari bentuk sebelumnya. Apalagi bila dari kerasi gerakan baru yang dimiliki ternyata mendapatkan respon yang positif dari komunitas tanaman kerdil ini.

Kerinduan akan munculnya gaya baru yang fenomenal dilontarkan oleh pebonsai kawakan asal Surabaya, Sulistyanto Soejoso. Menurutnya saat ini gaya bonsai yang ada masih cenderung mengecilkan tanaman atau dengan sebutan miniatur. Padahal bonsai punya arti lebih luas dari itu.

“Arti bonsai sendiri memang minatur dari tanaman tua namun harus dengan bentuk yang unik dan bisa dinikmati dari dekat,” ungkap pria yang akrab di panggil Sulis. Disitu ada banyak kesalah persepsi yang akhirnya akan menghentikan proses kreatifitas pebonsai. Salah satunya dengan terus membakukan satu gaya dan bentuk membuat bonsai.

Jebakan Gaya Formal dan Non Formal

Kedua gaya ini paling populer dimana bentuk untuk gaya formal seperti pohon beringin dimana bentuk kepala segitiga dengan rimbunnnya daun dan batang yang lurus. Sementara untuk gaya non formal masih mengambil bentuk kepala segitiga namun batang yang muncul punya gerakan meliuk. Tapi bila diambil garus lurus antara kepala dan akar tetap sejajar.

Di sini memang gaya formal dan non formal paling mudah untuk di pahami dan dicerna oleh semua kalangan. Dari gaya ini akhirnya banyak pebonsai yang memilih untuk menggunakan gaya ini karena memang punya daya serap pasar cukup besar. Selain itu proses pembuatannya cukup mudah dan bisa menghemat waktu.

Tapi di situ akhirnya tentu proses kreatifitas kurang berkembang dan kondisi ini yang cukup mengkhawatirkan. “Seharusnya proses seni itu berani menciptakan hal baru dan unik,” tambah Sulis. Sebab bagaimanapun unsur seni tetap akan memegang peranan paling besar dalam pembuatan bonsai.

Akhirnya pebonsai jangan sampai terjebak dengan beberapa gaya saja sebab bila gaya yang dikeluarkan tetap tentu akan terjadi kebosanan pasar. Akibatnya tentu dari segi penjualan akan berkurang sebab pasar akan turun. Dalam jangka panjang akan membuat kreatifitas penghobi bonsai berkurang.

Kembangkan Kreatifitas

Dari bentuk segitiga yang banyak diambil sebenarnya masih banyak bentuk yang bisa di ekplorasi. Salah satunya dengan mengambil bentuk kepala datar yang banyak dijumpai pada pohon tua di wilayah Afrika. Disitu tentu bentuk yang baru akan menarik minat orang untuk menikmatinya lebih lama. “Sekarang banyak yang takut melakukan gaya unik karena khawatir saat kontes kurang mendapatkan apresiasi,” imbuh Sulis.

Padahal baik dari unsur seni maupun bisnis bentuk yang baru akan menarik perhatian terutama yang unik dan berbeda. Apalagi bila bentuk kemasan yang diambil seperti pot dan dimensi yang dimiliki sempurna. Maka harga jual tinggi bukan lagi masalah.

Jangan Ditutup Daun

Sebagai tanaman kerdil bonsai harus bia dinikmati dalam bentuk kecil namun tetap memberikan kesan yang luas. Menurut Sulis ada beberapa hal baku yang salah kaprah tentang proses daun. Disitu pada bagian akhir terlihat bahwa daun yang rimbun akan menutupi gerakan bonsai.

Kondisi ini tentu disayangkan sebab dari pakem bonsai sendiri tidak ada yang mengharuskan daun harus rimbun begitu juga dalam draft penjurian. Sebagai contoh bonsai gaya formal akan membentuk kepala segitiga banyak yang di penuhi oleh daun.

Tapi bila diperhatikan lebih detail maka daun akan menutupi gerakan dari cabang dan rating di dalamnya. Akibatnya keindahan dari gerakan ranting tidak terlihat. “Jadi percuma kita melakukan pengkawatan kalo hasilnya tidak terlihat,” imbuh Sulis. Padahal secara teknis tidak ada aturan yang mengikat.

Sehingga seni bonsai sendiri memang sangat erat dengan gerakan batang dan itu yang menjadi keunggulannya. Sehingga proses daun diharapkan tidak terlalu rimbun karena bisa menutupi gerakan didalamnya.

Seperti halnya pohon besar bila kita melihatnya dari dekat maka akan terlihat jelas karakter dari cabang dan ranting. Daun juga jangan sampai menghalangi pemandangan dibelakangnya. Sebab di pohon besar dan tua latar belakang langit masih bisa kita lihat dan itu berlaku juga pada bonsai.

Bakalan Dari Kawasan Pantai Lebih Baik

Untuk mendapatkan gerakan yang unik dan baru memang mau tidak mau harus mendapatkan bakalan yang bagus dan berkualitas. Disini akan banyak sekali bakalan yang bisa dipilih mulai dari bentuk hingga jenis tanaman. Namun ada beberapa cara yang bisa dipilih untuk mendpatkan bakalan unik.

Cari bakalan yang berada di tempat ekstrem dan mendapatkan asupan nutrisi yang terbatas. Contonya di wilayah bebatuan dan karang-karang di tepi pantai. Sebab dengan kadar nutrisi yang sedikit akan memicu gerakan ekstrem. Dengan gerakan yang unik maka pengembangan bentuk akan jauh lebih mudah.

Sumber :
http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/02/26/bonasi-bukan-sekedar-miniatur-pohon/


Baca artikel selengkapnya....

Friday, March 7, 2014

Budidaya Pembesaran Ikan Baronang dalam Keramba Jaring Apung

Penyediaan Benih
Sampai saat ini benih ikan baronang yang digunakan dalam usaha budidaya berasal dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan baronang dapat diperoleh dalam jumlah besar pada saat musim puncak benih. Untuk setiap jenis baronang musim puncaknya akan berlainan pada setiap lokasi. Ikan baronang yang dibesarkan di instalasi riset keramba jaring apung teluk awerange berasal dari hasil tangkapan para nelayan di perairan teluk Labuange dengan ukuran + 20 gram.

Penebaran
Sebelum dilakukan penebaran, terlebih dahulu bibit di masukkan ke jaring penangkaran untuk di adaptasikan. Dari jaring penangkaran tersebut bibit diseleksi berdasarkan ukuran, keseragaman ukuran harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya sifat dominansi oleh ikan yang berukuran besar setelah seleksi dilakukan, maka ikan dimasukkan kedalam jaring pembesaran. Padat penebaran pada jaring pembesaran yakni + 70 ekor untuk luas jaring 1m x 1m x 2m. Penebaran dilakukan pada pagi hari karna suhu lebih stabil pada pagi hari.

Pemberian Pakan
Ikan Baronang bersifat herbivor, namun cepat tanggap (respon) terhadap pakan buatan (pellet), meskipun demikian segala sesuatu yang dapat menyebabkan ikan kaget/terkejut harus dihindari agar tidak menyebabkan stress. Respon baronang terhadap pakan akan berkurang apabila ikan mengalami stress.

Budidaya ikan Baronang dalam Keramba Karing Apung sepenuhnya mengandalkan pakan buatan. Jumlah pakan yang diberikan yakni 4 % dari total berat ikan / hari, pemberian pakan dilakukan pada pagi, siang dan sore hari, pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit. Hal ini dilakukan agar pakan tidak banyak terbuang, karena pada saat pemberian pakan ikan baronang sangat aktif bergerak sehingga menimbulkan arus dalam jaring. Menurut Rachmansyah (1993), bahwa pemberian pakan yang sembrono dan tergesa-gesa akan menyebabkan 5 – 10 % pakan yang diberikan akan terbuang keluar.

Perawatan Wadah budidaya
Pengontrolan terhadap keramba dilakukan setiap hari untuk menjaga kemungkinan adanya jaring sobek yang dapat menyebabkan lolosnya ikan ke luar keramba. Jaring keramba sering ditempeli organisme penempel ( fouling ) seperti teritip, rumput laut, kerang-kerangan, karang lunak, mollusca dan beberapa jenis alga dan makrobentos. Pembersihan yang dilakukan secara rutin dapat menjaga kelancaran sirkulasi air. Menurut Rachmansyah (1993), bahwa tertutupnya lubang mata jaring dapat mengurangi kecepatan arus air sehingga memperburuk kualitas air akibat sirkulasi yang kurang lancar.
Pencegahan penempelan fouling dapat dilakukan dengan cara mekanik, yakni dengan penjemuran jaring, perendaman, dan penyikatan.
Sumber :
http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/01/budidaya-pembesaran-ikan-beronang-dalam.html


Baca artikel selengkapnya....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Para Sahabat

Total Visitors

Histats

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP