Wednesday, April 10, 2019

Sistem Aeroponik untuk Budi Daya Tanaman Sayur

Sistem pertanian di Indonesia dalam beberapa dekade ini telah mengalami kemajuan yang pesat. Berbagai macam teknik budi daya tanaman sudah berhasil dikembangkan, mulai dari sistem hidroponik hingga sistem aeroponik.

Setelah sebelumnya sudah dibahas tentang sistem hidroponik, kini saatnya memperdalam pengetahuan tentang sistem aeroponik bersama-sama.
Aeroponik merupakan suatu cara bercocok tanam di udara tanpa mengunakan tanah. Di dalam aeroponik, tanaman tidak diberi media untuk tumbuhnya akar, melainkan dibiarkan terbuka dan menggantung pada suatu tempat yang telah dijaga kelembabannya.

Sebenarnya, sistem aeroponik ini tidak jauh berbeda dengan sistem hidroponik. Hanya saja, sistem aeroponik ini memerlukan air yang sudah berisi larutan hara yang nantinya akan disemburkan ke akar tanaman dalam bentuk kabut. Selanjutnya, akar tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara tersebut.

Untuk memulai budi daya dengan sistem aeroponik, ada beberapa hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu. Beberapa di antaranya adalah menyiapkan alat-alat seperti jaringan irigasi sprinkler, jet pump, nozzle sprinkle, PVC, rockwool, styrofoam, larutan nutrisi dan benih tanaman.
Selanjutnya, sebelum dilakukan penanaman, benih terlebih dahulu disemai di rockwool yang disusun pada tray pembibitan. Sebelum disemai, benih direndam pada air untuk memacu perkecambahan. Rockwool diberi lubang, setiap lubang ditanami satu benih agar pertumbuhannya baik, kemudian benih disimpan di ruangan gelap agar cepat berkecambah. Setelah tumbuh minimal dua helai daun, bibit pada rockwool dipindah tanamkan pada styrofoam yang telah dilubangi dengan posisi akar menggantung.
Akar tanaman sayuran ini nantinya akan menjuntai bebas ke bawah. Di bawah styrofoam terdapat sprinkler (alat pengabut) yang akan memancarkan kabut larutan nutrisi ke atas hingga mengenai akar. Sprinkler ini berfungsi untuk menciptakan uap air di sekeliling tanaman dan juga untuk memberikan lapisan air pada akar, sehingga suhu sekitar daun akan menurun dan evapotranspirasi akan berkurang.

Pengabutan dapat diatur secara intermittend, nyala-mati (on-off) bergantian menggunakan timer, asal lama mati (off) tidak lebih dari 15 menit karena dikhawatirkan tanaman akan layu. Bila pompa dimatikan, butiran larutan yang melekat pada akar bisa bertahan selama 15-20 menit. Pengabutan dapat diberikan pada siang hari saja, namun cara ini kurang dianjurkan karena kesempatan pemberian nutrisi pada tanaman akan menyusut.
Salah satu kunci keunggulan budidaya aeroponik ialah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara yang sampai ke akar. Selama perjalanan dari lubang sprinkler hingga sampai ke akar, butiran akan menambat oksigen dari udara hingga kadar oksigen terlarut dalam butiran meningkat. Dengan demikian proses respirasi pada akar dapat berlangsung lancar dan menghasilkan banyak energi. Selain itu dengan pengelolaan yang terampil, produksi dengan sistem aeroponik dapat memenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas.

Penggunaan sprinkler ini dapat menjamin ketepatan waktu penyiraman, jumlah air dan keseragaman distribusi air di permukaan tanah secara terus-menerus selama produksi tanaman. Selain itu, sistem ini sangat cocok untuk digunakan pada tanaman yang memiliki masa panen sekitar satu bulan setelah pindah tanam, seperti selada, kangkung dan bayam.
Tidak hanya itu, kini aeroponik sudah banyak dikembangkan untuk percobaan perbanyakan benih kentang unggul oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) dan Agritek Tasa Nusantara (ATN).

Referensi:
www.jurukebun.com
sistemhidroponik.com
fredikurniawan.com
bbpp-lembang.info


Baca artikel selengkapnya....

Tuesday, April 9, 2019

Teknik Pemeliharaan Ternak Kerbau Di Indonesia

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak yang berkembang di Indonesia. Kerbau merupakan ternak yang istemewa karena merupakan jenis ternak yang erat kaitannya dengan beberapa kebudayaan yang ada di Indonesia, seperti upacara-upacara adat yang ada di tanah toraja, menggunakan kerbau dalam ritualnya.

Begitu pula dengan beberapa kuliner khas Indonesia banyak yang menggunakan daging atau pun susu kerbau sebagai bahan bakunya,seperti : Soto kudus, Sate kerbau, dadih dari Sumatera Barat dan sebagainya. Kerbau umumnya diternakan oleh masyarakat sebagai ternak kerja dan sebagai tabungan. Meskipun tidak sepopuler jenis daging dari ternak lain, namun ternak kerbau mampu membantu menyumbang kebutuhan daging nasional.

Berdasarkan data dari kementerian pertanian (2017) produksi daging nasional kerbau menghasilkan produksi daging sebesar 0.6 juta ton pada tahun 2016. Hal ini menunjukan bahwa kerbau memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai penghasil produksi daging.

Selain jumlah produksi daging yang tinggi, kerbau juga memiliki keunggulan lain yaitu dalam hal konversi pakan. Kerbau mampu mengkonversi pakan dengan kualitas rendah namun produksi yang dihasilkan tetap optimal. Hellyward et al (2000) menyatakan bahwa kerbau (Bubalus bubalis) merupakan ternak yang istimewa karena memiliki kemampuan khusus dalam mencerna makanan yang berkualitas rendah untuk dapat bertahan hidup.

Selain itu ternak kerbau memiliki daya adaptasi yang baik meskipun berada di lingkungan yang jelek. Mufiidah et al (2013) menyatakan bahwa kerbau memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi karena mampu bertahan hidup dalam kawasan yang relatif sulit terutama dalam hal ketersediaan dan kualitas pakan.

Peran ternak kerbau bagi kehidupan peternak masih sangat penting. Menurut Suhubdy (2007) terdapat tiga alasan utama mengapa kerbau mempunyai peran penting. Pertama, ternak kerbau memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan peternak dan petani di pedesaan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) walaupun tanpa dukungan pemerintah dan tanpa perbaikan pola hidup. Kedua, ternak kerbau masih dapat berproduksi dan bereproduksi dengan baik pada kondisi alam dan agroekosistem yang sangat kritis, misalnya wilayah lahan kering bagian Timur Indonesia (Pulau Sumbawa, Sumba, Flores dll). Ketiga, ternak kerbau dapat mengubah pakan yang sangat rendah.

Nilai mutu gizinya seperti limbah pertanian dan rumput alam yang memiliki kandungan serat kasar sangat tinggi, menjadi daging dan susu yang bergizi bagi manusia. Miskiyah dan Usmiati (2006) juga menyatakan bahwa kerbau memiliki bobot karkas yang lebih tinggi dibandingkan sapi lokal. Bobot hidup kerbau rawa sebesar 370 kg, akan memiliki bobot potong sebesar 360 kg, dengan karkas panas sebesar 171.5 kg.

Selama ini para peternak kerbau di Indonesia umumnya menerapkan sistem ekstensif dan semi intensif dalam pemeliharaannya. Sistem ekstensif yaitu ternak digembalakan di ladang penggembalaan. Sedangkan untuk sistem semi intensif yaitu ternak di gembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam harinya. Berdasarkan hal tersebut, maka teknis pemeliharaan ternak kerbau di Indonesia belum memperhatikan aspek keuntungan. Peternak masih mengandalkan ketersediaan pakan dari alam. Peternak belum menerapkan sistem intensif dimana kebutuhan pakan dan lingkungan benar-benar dikontrol oleh peternak itu sendiri, sehingga keuntungan yang dihasilkan bisa optimal.

Berdasarkan hasil penelitian Sari et al (2015) di kabupaten Gayo Luwes menujukan bahwa berdasarkan aspek teknis pemeliharaan yang meliputi makanan dan tata laksana pemeliharaan ternak kerbau masih berada di bawah nilai standar dari yang ditetapkan oleh Direktorat Jenederal Peternakan tahun 1992.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ternak kerbau memiliki keistimewaan dalam hal konversi pakan dan adaptasi dengan lingkungan. Namun aspek teknis pemeliharaan ternak kerbau di Indonesia masih dibawah standar sehingga belum menghasilkan keuntungan yang optimal bagi peternak. Maka diperlukan penanganan yang serius dari berbagai pihak dalam upaya peningkatan produksi daging kerbau nasional dalam hal perbaikan teknis pemeliharaan.

Daftar Pustaka
Hellyward J, F Rahim, Erlinda. 2000. Pemeliharaan ternak kerbau lumpur ditinjau dari aspek teknis pemeliharaan di Sumatera Barat. Jurnal Peternakan. 6(1): 77-85.
[Kementerian Pertanian]. 2017. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2017.Jakarta (ID): Direktotarat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.
Miskiyah, Usmiati S. 2006. Potongan komersial karkas kerbau: studi kasus di PT. Kariyana Gita Utama-Sukabumi. Jurnal Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.
Mufiidah N,Ihsan NM, Nugroho H. 2013. Produktivitas induk kerbau rawa (Bubalus bubalis) ditinjau dari aspek kinerja reproduksi dan ukuran tubuh di kecamatan tempursari kabupaten lumajang. J. Ternak Tropika. 14(1): 21-28.
Suhubdy. 2007. Strategi penyediaan pakan untuk pengembangan usaha ternak kerbau. Wartazoa. 17(1): 1-11.
Sari EM, Abdullah NAM, Sulaiman. 2015. Kajian aspek teknis pemeliharaan kerbau lokal di kabupaten gayo lues. Agripet 15(1): 57-60


Baca artikel selengkapnya....

Thursday, April 4, 2019

Cara Menanam Budidaya Buah Pir di Indonesia

Pir (pear) merupakan sebutan untuk pohon dari genus Pyrus dan buah yang dihasilkannya. Beberapa spesies pohon pir menghasilkan buah yang enak dimakan karena mengandung banyak air, masir dan manis.

Buah pir bisa dimakan segar, diproses sebagai buah dalam kaleng, sari buah dan terkadang sebagai buah kering. Jus pir merupakan bahan dasar jelly atau selai meskipun sering dicampur dengan sari buah-buahan lain. Jus pir hasil fermentasi disebut perry.

Buah pir yang belum matang jika dimakan konon bisa memudahkan buang air besar (memiliki efek laksatif), sedangkan buah pir matang memiliki efek diuretik dan ada kemungkinan membuat orang mengantuk. Buah pir mengandung sorbitol sehingga bila dimakan terlalu banyak bisa menimbulkan rasa kembung pada perut dan menyebabkan buang angin.

Kayu pohon pir sangat bagus untuk dibuat bahan ukiran, mebel dan alat musik tiup berkualitas nomor satu. Kepingan kecil kayu pohon pir baik digunakan untuk memasak dengan teknik pengasapan karena mengeluarkan aroma yang harum. Parutan buah pir juga bisa digunakan sebagai pengempuk daging sebelum dimasak.

Buah pir ini banyak di budidayakan di daerah Afrika Utara, Eropa dan Asia Timur. Walau begitu, buh pir juga dapat dibudidayakan di Indonesia.

Cara Budidaya Buah Pir di Indonesia

Pembibitan Buah Pir

Sebaiknya pada awal bulan Desember hingga awal Maret mulai dilakukan penanaman bibit pir. Sebelum bertunas, sebaiknya bibit pir harus melewati masa dingin. Proses pendinginan tersebut disebut dengan stratifikasi. Hal tersebut dikarenakan, Indonesia tidak mengalami musim dingin. Dengan begitu, penanaman awal bibit pir hingga masa tunas terjadi, dilakukan di ruangan yang memiliki alat pengatur suhu lingkungan. Dengan tujuan untuk mendinginkan atau merendahkan temperatur lingkungan. Bibit pir tersebut ditanam di media pot kecil yang sudah diberi pupuk.

Penanaman Buah Pir

Saat melakukan penanaman, tanam varietas yang kompatibel satu sama lain. Tanam bibit pir atau biji buah pir pada tanah yang subur, tanah dengan kondisi yang baik dan kering. Tanah yang mendapatkan paparan sinar matahari penuh di tempat dengan sirkulasi udara yang baik saat musim tanam. Pohon buah pir seringkali tumbuh dengan ruang standar berukuran 18-25 kaki terpisah. Pohon buah pir yang kerdil hanya membutuhkan ruang 11-16 kaki terpisah.

Untuk budidaya pohon buah pir dalam wadah atau kontainer, maka sebaiknya dilakukan eliminasi tanaman dari pot. Buang akar yang tumbuh tak menentu dengan meletakkan pusat akar pada sisi yang lain. Gunakan gunting untuk memotong akar tersebut. Beda halnya untuk pohon yang dicangkok, maka posisikan dalam posisi yang jauh dari sinar matahari saat menanam. Lubang tanam dibuat beberapa inci lebih dalam dan juga lebih luas dari penyebaran akar tanaman buah pir. Atur pohon di atas gundukan kecil tanah pada tengah lubang.

Pemeliharaan dan Pemanenan Buah Pir

Pada umur 2-3 tahun, sebaiknya lakukan pemangkasan pada bibit pir yang ditanam. Hal tersebut sangat penting dilakukan karena pada usia tersebut bibit pir mulai mengalami pembentukan pohon dan juga susunan pohon. Di Indonesia, panen pir hasil budidaya tanaman buah pir biasanya dilakukan pada bulan September-Oktober. Buah pir yang dihasilkan di Indonesia memiliki karakteristik yang tak terlalu baik. Buah pir memiliki ukuran yang relatif kecil, rasa buahnya tidak semanis buah pir yang banyak dibudidayakan di daerah iklim sedang.

Sumber: https://www.faunadanflora.com/cara-menanam-budidaya-buah-pir-di-indonesia/


Baca artikel selengkapnya....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Para Sahabat

Total Visitors

Histats

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP